Saatnya kebijakan hutan untuk bertanggung jawab penuh: APRIL
Indonesia: Untuk kertas dan viskosa, korporasi pulp APRIL menebang hutan Sumatra dan Kalimantan. Selamatkan Hutan Hujan dan kelompok-kelompok pelindung alam lainnya sejak bertahun-tahun selalu melaporkan tindak kejahatan lingkungan. APRIL merahasiakan sumber dan pemasoknya. Peraturan penebangan Uni Eropa dan U.U. Rantai Pasokan harus mengakhiri kejahatan APRIL.
Sejak empat puluh tahun korporasi pulp Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) menebang hutan hujan dataran rendah di Sumatra untuk operasi pabriknya. Protes menentang perampasan lahan dan ancaman bagi orang utan dan harimau berlangsung di seluruh dunia. Aktivis Indonesia memantau jejak rantai pasokan. Kelompok-kelompok lingkungan di seluruh dunia menyerukan aksi boykot.
Pergumulan mengenai hutan hujan dimulai. APRIL menjanjikan perbaikan tapi segera ingkar dari setiap kesepakatan. Ada juga titik terang: Selamatkan Hutan Hujan menyoroti Jaminan Kredit Ekspor bagi Mesin Jerman yang menyebabkan tingginya kebutuhan pabrik akan bubuk kertas. Pemerintah Jerman tidak lagi mengizinkan kredit ekspor baru. Berbagai lembaga keuangan menarik diri. Pemasok kertas mencoret nama APRIL dari katalognya. Berbagai discounter memperketat pedoman belanja kayunya. Beberapa perhimpunan perlindungan alam menuntut APRIL untuk tidak lagi menggunakan kayu dari hutan primer.
Pengkhianatan dan penipuan terjadi: Sekitar tahun 2010 pemasok APRIL minimal telah menebang hutan seluas 140.000 hektar untuk perkebunan eukaliptus. Setelah protes keras, APRIL nampak mengunjukkan itikat baiknya dan berjanji untuk kesekian kalinya tidak akan lagi menggunakan kayu tebangan hutan. Tapi pihaknya segera ingkar janji.
Sejak 2017 korporasi ini pindah ke Kalimantan karena hutan di Sumatra sudah gundul. Di Kalimantan APRIL kembali merusak wilayah adat dan habitat orang utan.
Empat puluh tahun perjuangan sebuah jaringan internasional melawan konglomerat miliarder Sukanto Tanoto dengan perusahaan fiktif dan kedekatannya di bidang politik. Perusahaan itu mengelola perkebunan eukaliptus yang sangat besar di Brasil, membangun pabrik biodiesel dari minyak sawit, memproduksi viskosa dan bahan pengemasan di Tiongkok dan Kanada - dengan kayu dari Sumatra dan Kalimantan.
„Kami mengharap Peraturan Deforestasi Uni Eropa EUDR dan Undang-Undang Rantai Pasokan efektif“, demikian Timer Manurung dari LSM Auriga Nusantara. „Undang-Undang ini mewajibkan perusahaan harus memberi bukti dari pernyataannya, dan bukan pihak ketiga yang harus membuktikan adanya tindak pidana. Setiap perusahaan tidak akan lagi bisa bersembunyi dibalik rantai pasokan yang kompleks dan perusahaan fiktif.
Ini saatnya kebijakan hutan untuk bertanggung jawab penuh.“
Re: Grup APRIL yang memperoleh bahan baku dari PT Industrial Forest Plantation dan PT Mayawana Persada serta menangguhkan Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan-nya
Surat 23 LSM kepada perusahaan pulp APRIL (Royal Golden Eagle Holding), Juni 2026, bahasa Inggris, 6 halaman:
Perusahaan pulp APRIL (Royal Golden Eagle Holding) telah menghentikan penerapan Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0 (SFMP 2.0 = tidak menggunakan kayu hasil deforestasi setelah tahun 2015) dan kembali membeli kayu dari PT Mayawana Persada dan PT Industrial Forest Plantation, dua perusahaan penebang hutan terbesar di Kalimantan, yang telah beberapa kali dilaporkan oleh kami. Sebanyak 23 LSM menuntut agar APRIL mematuhi SFMP 2.0 dan tidak membeli kayu dari MP dan IFP.
Jangan berbisnis dengan perusahaan kertas APRIL!
Perusahaan kertas APRIL dari holding Royal Golden Eagle (RGE) merusak hutan hujan dan kehidupan penduduk. Seruan bagi para investor: Jangan berbisnis dengan APRIL / RGE!
Hutan hujan
Samudra hijau dengan pakis, lumut, liana, anggrek dan pohon rimba. Katak panah beracun, burung cendrawasih, bunga rafflesia, beruang sloth, dan Coati serta jutaan spesies serangga. „Paru-paru hijau“ dunia adalah pesona luar biasa. Ketahui lebih lanjut tenttang ekosistim hayati yang teranekaragam di dunia kita ini, kesinambungan hidup bersama antara hewan dan tumbuhan serta bahaya penebangan hutan.