Surat kepada presiden: Selamatkan Hutan Beutong!
Indonesia: Masyarakat Beutong menolak seluruh izin tambang emas di Beutong Ateuh dan menulis surat kepada Presiden Republik Indonesia dan instansi lain, karena hutan Beutong sekitar Ekosistem Leuser dan Hutan Ulu Masen terancam oleh izin pertambangan emas.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Beutong telah menentang pertambangan emas di tanah dan hutan mereka. Beutong Ateuh berada di sekitar bentang alam penting, yakni Ekosistem Ulu Masen dan Kawasan Ekosistem Leuser. Hutan-hutan ini selama ini berperan menjaga keseimbangan lingkungan, menahan aliran air, serta melindungi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Namun, penebangan hutan telah terjadi, sehingga fungsi ekologis hutan telah mengalami kerusakan. Dalam keadaan apa pun, izin-izin baru terutama izin tambang jangan diberikan lagi. Karena ketika hutan rusak, bencana menjadi semakin dekat dan dampaknya kian besar.
Selamatkan Hutan Hujan bahkan telah mendukung perjuangan masyarakat melalui petisi Selamatkan Hutan Beutong dari ancaman tambang yang sampai Mai 2026 telah ditandatangani oleh hampir 90.000 pendukung dari seluruh dunia.
25 November 2025, bencana datang, dan masyarakat Beutong menderita akibat banjir bandang yang disebabkan siklon Senyar. Solidaritas dari rakyat dan Selamatkan Hutan Hujan yang Menjaga Beutong Tetap Bertahan.
Meskipun penolakan kuat pertahun-tahun oleh masyarakat Beutong, solidaritas pecinta lingkungan dari seluruh dunia dan berbagai usaha dari tokoh Aceh, pemerintah Indonesia tampaknya tetap ingin memaksakan kegiatan pertambangan di surga alam ini.
Kini, masyarakat beutong Ateuh telah menulis surat kepada pemerintah. Sambil menunggu jawaban presiden, kita dapat menonton film kami dari surga Beutong dan semangat masyarakat: https://drive.google.com/drive/folders/1jJssqBTNOb1F4mXYwK-JkHP8NOKXz9_1
Surat
SELAMATKAN HUTAN BEUTONG ATEUH
Jangan Biarkan Tambang Menghancurkan Tanah Warisan Kami
ditujukan kepada:
- Presiden Republik Indonesia
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
- Gubernur Aceh
- Bupati Nagan Raya
- DPR Aceh dan DPRK Nagan Raya
Dengan hormat,
Inilah tanah Beutong, tanah nenek moyang kami yang diwariskan kepada kami.
Di pedalaman Aceh, jauh dari hiruk-pikuk kota dan kepentingan industri, terdapat sebuah wilayah yang masih menjaga denyut kehidupan alam: Beutong Ateuh.
Di sini, hutan bukan hanya bentang hijau yang terlihat dari kejauhan. Hutan adalah sumber kehidupan. Hutan adalah rumah. Hutan adalah masa depan.
Beutong Ateuh berdiri di antara dua bentang alam paling penting di Aceh — Ekosistem Leuser dan Ekosistem Ulu Masen. Kawasan ini menjadi penyangga ekologis yang menjaga keseimbangan air, iklim, tanah, dan kehidupan ribuan makhluk hidup.
Di hutan-hutan ini, masyarakat hidup berdampingan dengan alam sejak lama. Mereka menjaga sungai, merawat tanah, memanen hasil hutan secukupnya, dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.
Masyarakat Beutong tidak hidup dari merusak hutan. Mereka hidup karena hutan tetap berdiri.
Hasil hutan yang kami peroleh adalah kemiri, kopi, coklat, pinang, rotan, dan obat-obatan. Kami hidup dari hutan. Karena itu kami menjaganya.
Namun hari ini, tanah yang tenang itu berada dalam ancaman besar.
Rencana tambang emas kembali menghantui Beutong Ateuh.
Jika izin tambang dikeluarkan, maka ribuan hektar hutan berisiko dibuka. Sungai-sungai akan tercemar. Satwa akan kehilangan habitat. Tanah adat akan terpecah. Dan masyarakat akan kehilangan ruang hidup yang selama ini mereka jaga turun-temurun.
Kami tidak ingin Beutong berubah menjadi wilayah rusak yang dipenuhi lubang tambang, banjir, longsor, dan konflik sosial.
Masyarakat Beutong sudah merasakan bagaimana hutan yang rusak membawa bencana.
Pada akhir tahun 2025, banjir bandang dan longsor menerjang kawasan Beutong Ateuh. Rumah-rumah hancur. Sungai meluap. Sumber air bersih menyusut. Kehidupan masyarakat lumpuh.
Bagi masyarakat Beutong, bencana itu bukan sekadar peristiwa alam. Itu adalah peringatan.
Hutan yang hilang tidak lagi mampu menahan air. Tanah yang rusak tidak lagi mampu menjaga kehidupan. „Masyarakat Beutong sekarang sudah merasakan panas yang luar biasa. Air sungai mulai menyusut. Air minum semakin sulit. Kami takut jika tambang masuk, bencana akan semakin besar.” Namun ancaman terhadap Beutong tidak berhenti di situ.
Di banyak tempat di dunia, hutan-hutan adat dihancurkan atas nama pembangunan, investasi, tambang, perdagangan karbon, dan proyek industri skala besar. Banyak masyarakat adat kehilangan tanahnya demi keuntungan segelintir pihak.
Kini, ancaman serupa mengintai Beutong Ateuh. Kami percaya, menghancurkan Beutong sama saja dengan menghancurkan masa depan Aceh. Hutan Beutong bukan sekadar kumpulan pohon.
Hutan ini menjaga sumber air bagi pertanian masyarakat. Menjadi habitat satwa dilindungi. Menjaga kestabilan iklim. Melindungi wilayah dari banjir dan longsor. Menjadi ruang hidup perempuan, anak-anak, petani, dan generasi mendatang.
Tanah Beutong ini sebenarnya pinjaman dari anak cucu kami. Kami ingin mengembalikannya dalam keadaan utuh, bukan hutan yang gundul dan rusak.
Masyarakat Beutong telah menjaga hutan melalui sistem adat turun-temurun seperti Pawang Uteuen — nilai dan praktik yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya. Di tengah krisis iklim global, masyarakat adat seperti di Beutong justru menjadi penjaga terakhir hutan yang tersisa. Tetapi perjuangan mereka sering kali kalah oleh kepentingan investasi dan eksploitasi sumber daya alam. Karena itu kami menyerukan solidaritas seluas-luasnya.
Kami mengajak masyarakat Aceh, masyarakat Indonesia, komunitas internasional, organisasi lingkungan, akademisi, mahasiswa, jurnalis, tokoh agama, dan seluruh pihak yang peduli pada keadilan ekologis untuk berdiri bersama masyarakat Beutong Ateuh.
Kami Menuntut
Kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya:
- Menolak seluruh izin tambang emas di Beutong Ateuh.
- Menghentikan segala bentuk aktivitas eksplorasi dan eksploitasi tambang yang mengancam hutan dan ruang hidup masyarakat.
- Menjadikan Beutong Ateuh sebagai kawasan perlindungan ekologis yang dijaga bersama masyarakat adat dan komunitas pawang Uten.
Kepada Pemerintah Republik Indonesia:
- Mengakui dan melindungi hak masyarakat adat atas wilayah kelola mereka.
- Menghentikan kebijakan yang membuka jalan bagi deforestasi di kawasan penyangga Ekosistem Leuser dan Ulu Masen.
- Memastikan perlindungan hutan Aceh sebagai bagian penting dari perlindungan iklim dan keanekaragaman hayati dunia.
Kepada masyarakat luas:
- Suarakan penolakan terhadap tambang emas di Beutong Ateuh.
- Sebarkan surat terbuka ini.
- Berdiri bersama masyarakat Beutong untuk mempertahankan hutan mereka.
Kami percaya:
Ketika hutan dihancurkan, bukan hanya pohon yang hilang.
Air hilang.
Udara bersih hilang.
Satwa hilang.
Tanah longsor.
Banjir datang.
Dan perlahan, masa depan ikut menghilang.
Menurut adat masyarakat Beutong:
Apabila manusia menjaga hutan, hutan juga menjaga manusia. Tetapi apabila manusia merusak hutan, maka hutan juga akan membawa akibat kepada manusia.
Jangan tunggu sampai semuanya terlambat.
Jangan tunggu sampai Beutong tinggal nama.
Selamatkan Beutong Ateuh.
Selamatkan hutan Aceh.
Selamatkan masa depan generasi mendatang.
Tandatangani
Hormat kami,
Masyarakat Beutong Ateuh
Apel Green Aceh
Komunitas Pawang Uteuen
dan lembaga lain
Selamatkan Beutong dari Ancaman Tambang!
Penambangan emas mengancam Kawasan Ekosistem Leuser oleh PT. Bumi Mentari Energi BME. Tolong dukung para pembela lingkungan memperjuangkan perlindungan hutan di Beutong!
Emas: dampak buruk dari logam kotor
Di sini akan Anda baca kerusakan yang diakibatkan oleh kerakusan emas. Dan apa yang kita bisa lakukan bersama untuk menghentikan kegilaan ini.