Brasil: Kami ingin tanah yang subur bukan HTI!
Di Brasil, satu korporasi kertas bernama Veracel telah mencaplok lahan dan menanaminya dengan pohon monokultur eukaliptus. Hutan hujan, pertanian dan penduduk harus hengkang. Sejak bertahun-tahun petani kecil dari gerakan MLT menunggu izin dari pihak berwenang agar mereka boleh mengolah lahan yang telah diberikan kepada mereka.
Kepada: Gubernur negara bagian Bahia, Bapak Jerônimo Rodrigues; Sekretaris Negara Bidang Pembangunan Desa di negara bagian Bahia, Bapak Osni Cardoso de Araújo
“Pemerintah harus menggusur pihak tak berwenang dari lahan yang telah diberikan kepada MLT dan menyediakan air bersih, listrik dan tempat tinggal”Kebutuhan kita akan kertas print dan higienis berdampak bencana bagi negara-negara tropis. Hanya dari Brasil saja, negara-negara Uni Eropa mengimpor tiap tahunnya lebih dari 10 juta ton selulosa, darinya impor ke Jerman sebesar hampir satu juta ton. Produksi membutuhkan sekitar satu juta hektar perkebunan eukaliptus.
Untuk monokultur kayu dari pihak industri kertas yang merusak lingkungan maka hutan hujan, pertanian dan penduduk harus hengkang. Padahal di sana sebetulnya adalah padang ekologis bagi flora dan fauna. Dengan herbisida, fungisida dan insektisida lahan ekologis sekaligus habitat keanekaragaman hayati itu dicemari.
Sering kali perusahaan mencaplok lahan masyarakat adat, petani kecil atau tanah negara. Di musim gugur 2025 kami mengunjungi kelompok petani kecil di pemukiman Baixa Verde di negara bagian Bahia, Brasil (bahasa Jerman). Di sana pada 2008 puluhan keluarga dari gerakan MLT menempati dan mengelola 1300 hektar lahan terbuka yang sebelumnya telah disita oleh korporasi usaha selulosa Veracel dengan perkebunan eukaliptusnya.
Veracel, sebuah joint venture dari Stora-Enso (perusahaan Finlandia-Swedia) dan Suzano grup dari Brasil, sebelumnya telah memakai pihak lain untuk mengusir paksa penduduk setempat. Beberapa saat kemudian pengadilan dan badan pemerintah telah memberikan kelompok petani kecil izin penggunaan lahan.
Oleh karena itu warga segera datang kembali ke desanya dan di sana menanam bahan makanan seperti singkong, pisang dan ubi jalar. Di daerah-daerah yang vital, seperti di sepanjang aliran sungai, mereka menanam pohon agar menjadi hutan kembali.
Selain itu warga tetap menunggu pihak berwenang untuk menggusur penyusup ilegal di daerah tersebut agar warga bisa mengolah seluruh lahan yang telah diberikan kepada mereka. Dan juga pihak berwenang agar menyediakan air bersih, listrik dan tempat tinggal.
Untuk itu warga desa memohon kami untuk mendukung mereka dengan petisi ini yang ditujukan pada pemerintah:
Petisi dimulai 12/03/2026
Perampasan lahan dan perusakan demi konsumsi kertas kita
Aktivitas Veracel di Brasil berkaitan erat dengan kebutuhan kertas di Eropa. Dari kayu pohon, Veracel tiap tahunnya memproduksi 1,1 juta ton selulosa yang sebagian besar untuk ekspor. Serat eukaliptus terutama digunakan untuk produksi kertas print dan tulis serta untuk produksi barang-barang higienis seperti kertas toilet, kertas tisue dan pempers. Ternyata konsumsi kertas punya dampak buruk bagi negara-negara tropis.
Atas dasar kepentingan ekonomi di Eropa, Bank Investasi Eropa (EIB) telah memberikan dana kepada Veracel dengan dua pinjaman: Tahun 2001, EIB dengan 30 juta US-Dollar telah mendanai perkebunan eukaliptus seluas 26.200 hektar dan tahun 2003 dengan 80 juta US-Dollar telah mendanai pembangunan pabrik selulosa milik Veracel di Bahia. Keputusan bank untuk memberikan pinjaman nampak sedikit memperhatikan dampak yang bisa muncul di bidang ekologis, sosial dan hak.
Reportase stasiun televisi ARD „Telah lama hilang - Bisnis kotor dengan perlindungan iklim“
Apa saja dampak dari perkebunan eukaliptus bagi lingkungan hidup dan penduduk setempat? Untuk itu Anda bisa melihat reportase ARD "Telah lama hilang - Bisnis kotor dengan perlindungan iklim (bahasa Jerman)" yang disiarkan pada november 2025.
Film dokumentasi berdurasi 30 menit ini mengungkap praktik cuci uang internasional dengan sertifikat iklim: Dengan bantuan miliaran US-Dollar dana pajak, hutan-hutan di Brasil „direboisasi“. Hutan-hutan ini akan mengikat CO2. Dengan begitu emisi CO2 terkompensasi. Namun hasil penelitian mengatakan bahwa alam tidak direboisasi, melainkan dihancurkan demi perkebunan eukaliptus. Industri monokultur ini akan menggusur penduduk desa dan melanggar HAM. Meski ada pernyataan ini, sertifikat iklim tetap merestui operasional perusahaan yang katanya berkelanjutan dan telah memenuhi segala persyaratan. Dokumentasi ini menunjukkan realitas dibalik kedok proyek dan menyangsikan kesungguhan proyek perlindungan iklim yang bernilai miliaran Dollar ini.
Kepada: Gubernur negara bagian Bahia, Bapak Jerônimo Rodrigues; Sekretaris Negara Bidang Pembangunan Desa di negara bagian Bahia, Bapak Osni Cardoso de Araújo
Yang terhormat Bapak Jerônimo Rodrigues, Gubernur negara bagian Bahia;
Yang terhormat Bapak Osni Cardoso de Araújo, Sekretaris Negara Bidang Pembangunan Desa negara bagian Bahia,
Pemukiman penduduk di Baixa Verde terletak di wilayah yang tahun 2008 telah ditempati Gerakan Perjuangan Hak Tanah (MLT: Movimento de Luta pela Terra). Pemukiman ini berada di wilayah paling selatan Bahia, di sebuah wilayah yang terbentuk oleh banyaknya konflik lahan dan perluasan monokultur eukaliptus milik industri selulosa internasional.
Model pembangunan yang menguntungkan negara-negara belahan utara dunia mengakibatkan bencana ekologis dan sosial yang parah bagi masyarakat adat dan penduduk lainnya di negara bagian setempat. Dampak ini juga mengakibatkan langkanya air bersih, tanah yang tidak subur, hilangnya biodiversitas, penggusuran masyarakat adat dan ketidaksetaraan yang tajam di wilayah tersebut.
Pada 2010 tempat pemukiman MLT diserbu oleh sebuah kelompok dengan melakukan berbagai kekerasan terhadap warga desa dan menduduki sebagian wilayah Baixa Verde. Anggota MLT melakukan perlawanan dan terus bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan makan dan menciptakan kembali lingkungan hidup mereka yang hijau.
Setelah negara bagian Bahia mengajukan masalah tersebut ke pengadilan pusat Brasil di tahun 2023, kemudian pengadilan memutuskan bahwa kelompok tak sah yang menduduki pemukiman MLT harus hengkang dan penempatan wilayah diberikan kembali ke MLT agar mereka memiliki akses untuk mengolah lahannya.
Meskipun begitu pemerintah negara bagian Bahia belum menjalankan keputusan pengadilan. Penduduk di pemukiman MLT masih belum bisa bekerja di seluruh wilayah yang sudah diberikan kepada mereka. Negara bagian Bahia benar-benar telah membiarkan penduduknya sendirian dengan masalahnya.
Atas situasi ini kami mendesak pemerintah negara bagian Bahia untuk:
- Melaksanakan keputusan pengadilan tahun 2023 dengan segera serta dengan sungguh-sungguh membebaskan wilayah milik MLT di pemukiman Baixa Verde dari pihak tak berwenang melalui kesepakatan bersama anggotanya.
- Segera menjalankan proyek infrastruktur yang telah dijanjikan sendiri oleh pemerintah negara bagian Bahia, terutama diantaranya adalah penyediaan air untuk minum dan sistem perairan yang terpantau, listrik, pembangunan rumah, perbaikan jalan masuk serta fasilitas umum dan jasa layanan lainnya yang vital.
- Mengatur formalisasi, institusionalisasi dan pelaksanaan peraturan umum yang spesifik bagi pemukiman Baixa Verde MLT - termasuk dukungan produksi agroekologis, pertolongan teknis yang berkesinambungan, pinjaman pedesaan, pendidikan di desa, kesehatan, perlindungan lingkungan, politik bagi pemuda dan penguatan perekonomian petani.
Dengan hormat,
Bank Investasi Eropa (EIB), diakses pada 3.12.2025. Proyek pabrik selulosa Veracel, Brasil: https://www.eib.org/en/press/topical-briefs/all/veracel-pulp-mill-project-brazil